Tanggal Posting

April 2012
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Aktifitas


Kutipan Sejarah_04

Berke Khan dan Golden Horde


KISAH penaklukkan Mongol di bawah kepemimpinan Jenghis Khan dan anak cucunya, merupakan salah satu episode yang sangat menarik dalam sejarah dunia (baca juga tulisan sebelumnya “Mongol: Penakluk yang Tertaklukkan”). Kemunculan Mongol pada masa itu bisa dianggap sebagai musibah yang sangat besar bagi dunia Islam, karena negeri-negeri Muslim, bahkan pusat kekhalifahan di Baghdad, jatuh ke tangan mereka, dan tidak sedikit kaum Muslimin yang menjadi korban.

Sebetulnya para pemimpin Mongol bukanlah orang-orang yang antiagama. Mereka memang bersikap sangat keras dan haus darah terhadap musuh di luar wilayah mereka, atau terhadap pihak yang sedang mereka taklukkan, kadang tanpa mengecualikan institusi-institusi keagamaan sekalipun. Namun, mereka relatif toleran terhadap agama-agama yang berkembang di wilayah yang mereka pimpin. Beberapa pemimpin Mongol sendiri ada yang menganut agama Kristen dan memiliki ibu atau istri Kristen. Agama Kristen Nestorian memang telah lama masuk ke wilayah Timur dan mendapat tempat di kalangan sebagian pemimpin Mongol. Di samping Kristen dan agama-agama lainnya, Islam juga mendapatkan toleransi di bawah Kekaisaran Mongol.

Sepeninggal Jengis Khan, wilayah-wilayah taklukkan Mongol dibagi kepada empat anak (Jochi, Jaghatai, Ogodei, dan Tolui) serta saudara Jenghis Khan. Kedudukan Great Khan, pemimpin tertinggi, dikuasai oleh Ogodei (memerintah antara 1229-1241), putera ketiga Jenghis Khan, dan keturunannya. Putera pertama Jenghis Khan, Jochi, justru yang paling tidak sejalan dengan ayahnya, dan keturunannya mendapat wilayah yang paling jauh dari pusat kekuasaan. Wilayah ini dikenal sebagai Golden Horde dan pemimpin pertamanya adalah Batu, putera Jochi.

Wilayah Golden Horde mencakup wilayah Rusia (Moskow, Kiev, dan lain-lain), dan beberapa negara Eropa Timur, seperti Polandia dan Hunggaria. Beberapa wilayah Asia Tengah seperti Azerbaijan dan Samarkand pada awalnya juga merupakan bagian dari wilayah kekuasaan keturunan Jochi. Tapi kemudian Azerbaijan diberikan oleh Great Khan kepada Hulagu, dan Samarkand direbut oleh keturunan Jagathai dalam konflik internal yang berkembang belakangan. Bangsa Mongol di Golden Horde juga dikenal sebagai Mongol Kipcak, mengacu pada bangsa yang mereka taklukkan sebelumnya di wilayah tersebut, yaitu bangsa Turki Kipchak.

Posisi Great Khan terus berada di jalur keluarga Ogodei hingga kepemimpinan salah satu puteranya, Guyuk (memerintah antara 1246-1248). Beberapa sumber menyebutkan sikap Guyuk yang banyak dipengaruhi Kristen dan cenderung memusuhi Islam.1 Di akhir masa kepemimpinannya, pemerintahan Guyuk berusaha membangun kerjasama dengan kalangan Kristen Eropa untuk memerangi negeri-negeri Muslim lebih jauh.2 Masa pemerintahannya yang pendek secara tidak langsung telah menunda kejatuhan Baghdad ke tangan Mongol (Baghdad baru jatuh pada tahun 1258).

Wafatnya Guyuk diikuti dengan persaingan dalam memperebutkan kedudukan Great Khan. Posisi tersebut akhirnya jatuh ke tangan Mongke Khan (memerintah antara 1251-1259). Ini merupakan penyimpangan dari tradisi sebelumnya. Mongke tidak berasal dari keluarga Ogodei. Ia merupakan anak Tolui yang merupakan putera bungsu Jenghis Khan. Naiknya Mongke ke tampuk tertinggi kekuasaan Mongol tidak terlepas dari peran Batu, penguasa Golden Horde, yang jasanya tidak pernah dilupakan oleh Mongke. Batu sendiri tidak hadir dalam prosesi pemilihan tersebut. Ia diwakili oleh adiknya, Berke, yang mengatur proses suksesi Great Khan saat itu. Tentang Berke ini kita akan membahasnya secara lebih detail.

Berke merupakan pangeran yang cukup senior pada kekaisaran Mongol, salah satu cucu Jenghis Khan dan menyertai kakeknya dalam banyak pertempuran. Dan ia merupakan seorang Muslim. Kapan persisnya ia menganut Islam agak sulit untuk dipastikan. Salah satu sumber Muslim menyebutkan bahwa ia telah dididik secara Islam sejak masih kecil, sumber lain menyebutkan bahwa ia masuk Islam karena peranan seorang sufi dari Khawarizm bernama Saifuddin. Yang jelas, ia sudah menjadi seorang Muslim pada prosesi pengangkatan Mongke sebagai Great Khan pada tahun 1251. Hewan-hewan yang dipotong untuk penyajian makanan dalam merayakan pengangkatan Mongke, atas perintah Berke, dipotong menurut aturan hukum Islam.3

Keislaman Berke dipandang oleh para sejarawan Muslim sebagai keislaman yang baik. Di bawah kesatuannya, instruksi-instruksi Islami biasa diberikan dan dijalankan. Seorang pendeta Fransiscan, William Rubruck, yang melakukan perjalanan ke wilayah kekuasaan Mongol menyatakan bahwa Berke tidak mengizinkan babi dimakan di kesatuannya.4

Prof. Ataullah Bogdan Kopanski, salah satu pengajar pada International Islamic University Malaysia (IIUM), dalam salah satu kuliahnya berspekulasi bahwa nama Berke sendiri mungkin berasal dari bahasa Arab ‘barakah.’ Sumber-sumber Tatar memang menulis namanya sebagai ‘Barakat.’5 Namun, dalam bahasa Mongolia sendiri kata ‘berke’ memiliki arti, yaitu ‘sulit’ (difficult).6 Terlepas dari perbedaan tersebut, keberadaan Berke mungkin bisa dianggap sebagai ‘berkah’ tersendiri bagi dunia Islam, karena di tengah himpitan kekuasaan Mongol, kaum Muslimin mendapati seorang pemimpinnya yang berpihak secara kuat pada mereka.

Ketika Batu wafat pada tahun 1255, anaknya yang sedang berada di Monggolia Sartaq, diterima dan diangkat sebagai khan Golden Horde oleh Mongke. Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa ia merupakan seorang penganut Kristen yang cukup kuat. Setelah menerima pengangkatan dari Mongke, Sartaq segera kembali ke Golden Horde. Tapi ia meninggal dalam perjalanan, atau tak lama setelah tiba di kawasan Volga. Mongke kemudian menunjuk anak Sartaq yang bernama Ulaghchi (sumber lain menyebut Ulaghchi sebagai saudara Sartaq). Namun, yang terakhir ini juga meninggal dunia tak lama setelah itu. Kepemimpinan Golden Horde otomatis berpindah ke tangan Berke. Ini terjadi pada tahun 1257.

Kepemimpinan Berke di Golden Horde menandai satu babak baru dalam sejarah Kekaisaran Mongol. Tak lama setelah menjadi Khan di Golden Horde, Berke mengunjungi Bukhara dan memperlakukan para ulama di sana dengan penghormatan yang tinggi. Ia juga memberikan hukuman pada komunitas Kristen di Samarkand karena sikap mereka yang buruk terhadap masyarakat Muslim.7

Setelah kematian Mongke pada tahun 1259, kedudukan Great Khan berikutnya jatuh ke tangan adiknya, Kubilai. Namun, keadaan tidak sama lagi seperti sebelumnya. Kekaisaran Mongol mulai terpecah belah dalam perang saudara. Adik bungsu Kubilai, Ariq-Boga, menantang kedudukan kakaknya sebagai Great Khan. Wilayah Turkistan yang dikendalikan oleh Alughu, cucu Jagathai, mulai memisahkan diri dari pusat kekuasaan. Ia juga memusuhi Berke dan mengusir para pejabat dan pendukungnya dari Samarkand dan Bukhara. Berke sendiri kemudian memimpin Golden Horde sebagai pemerintahan yang terpisah dari pusat kekaisaran Mongol. Sementara itu, Hulagu, adik Kubilai lainnya, yang sejak tahun 1256 menguasai Persia, sibuk dengan upayanya meluaskan kekuasaan hingga ke Iraq dan wilayah Muslim lainnya.

Pada tahun 1258, Hulagu berhasil menguasai Baghdad, menghabisi penduduknya, dan menamatkan riwayat khalifah dunia Islam yang saat itu dipegang oleh al-Musta’sim. Kejadian itu merupakan suatu tragedi yang besar bagi dunia Islam. Namun, itu belum mencukupi bagi Hulagu. Ia berambisi menguasai Suriah yang ketika itu dikendalikan oleh Bani Ayyub dan juga Mesir yang dipimpin oleh Dinasti Mamluk. Hulagu memiliki ibu Kristen, salah satu istrinya beragama Kristen, dan jenderal utamanya, Kitbuga, juga penganut Kristen Nestorian, walaupun ia sendiri tidak menganut agama tersebut. Hal ini menjelaskan sikapnya yang sangat tidak ramah terhadap dunia Islam.

Segera setelah menguasai Iraq, Hulagu dan pasukannya merebut wilayah Suriah tanpa menghadapi perlawanan berarti. Ia sudah bersiap menyerang Mesir saat mendengar wafatnya Great Khan (Mongke). Ia memutuskan untuk kembali ke pusat kekaisaran Mongol untuk ikut dalam pemilihan Great Khan dan menugaskan jenderalnya untuk menghadapi pasukan Mamluk. Tanpa kehadiran Hulagu, pasukan Mamluk berhasil mengalahkan pasukan Mongol di Ayn Jalut (lihat tulisan kami “Ramadhan di Ayn Jalut”), dan membebaskan wilayah Suriah. Walaupun perang ini sangat penting dalam menghentikan laju pasukan Mongol, ancaman terhadap dunia Islam belum sepenuhnya berakhir, karena Hulagu setiap saat bisa menghimpun kekuatannya, dan melanjutkan ambisinya menguasai Suriah dan Mesir. Hulagu memang benar-benar kembali untuk mewujudkan impiannya. Tapi kali ini ia mendapat halangan yang lebih serius. Ia mendapat tantangan dari sepupunya sendiri: Berke.

Sejarawan-sejarawan Persia yang menulis sejarah Mongol menyebutkan kemarahan dan penentangan Berke terhadap Hulagu karena kehancuran yang ditimpakan Hulagu terhadap ibukota Islam, Baghdad.8 Sejak tahun 1261 terjadi hubungan diplomasi antara Mamluk Mesir di bawah kepemimpinan Baybars dan Mongol Kipchak yang dipimpin Berke. Mereka mencapai kesepakatan untuk menghadapi Il-Khanate atau Mongol Persia yang dipimpin Hulagu. Persekutuan ini memaksa Hulagu mengalihkan perhatiannya dari Suriah dan Mesir dan berperang menghadapi pasukan Berke. Ini terjadi pada akhir tahun 1262.

Pada awalnya Hulagu berhasil mendesak pasukan sepupunya itu dan mengejarnya ke utara hingga mencapai Sungai Terek dan menyeberanginya. Tapi di tempat itu mereka dikejutkan oleh serangan mendadak yang dilakukan oleh Nogai, anggota keluarga dan salah satu pimpinan pasukan Berke. Serangan ini memaksa Hulagu dan pasukannya menyeberangi kembali Sungai Terek yang saat itu sedang membeku oleh musim dingin. Namun kali ini banyak pasukan Hulagu yang terjerembab ke dalam sungai dan tenggelam karena lapisan es sungai itu pecah oleh hentakan tapak-tapak kuda mereka. Hulagu mengalami kekalahan pada pertempuran tersebut dan terpaksa kembali ke wilayah kekuasaannya.

Perseteruan antara Golden Horde dan Il-Khanate terus berlangsung ke masa-masa berikutnya, bahkan setelah tiadanya Berke dan Hulagu, tanpa ada pemenang di antara kedua belah pihak. Kendati demikian, upaya Berke ini berhasil menghentikan secara permanen keinginan Hulagu untuk menguasai Suriah dan Mesir, sehingga wilayah-wilayah Muslim itu bebas dari ancaman Mongol.9 Jika dikatakan oleh para tabib zaman dahulu bahwa obat dari suatu racun biasanya terletak dekat atau pada sumber yang sama dengan racun tersebut, obat penetral bagi musibah yang ditimpakan oleh bangsa Mongol terhadap dunia Islam ternyata juga terdapat di dalam puak Mongol sendiri. Demikianlah, Berke telah menetralisir bencana yang hendak memporak-porandakan negeri-negeri Islam lebih jauh. Baghdad memang terlanjur jatuh, tapi Haramain dan Jazirah Arab, al-Quds dan Suriah, Mesir dan negeri-negeri Muslim di Afrika Utara dan Andalusia, selamat dari terkaman Mongol.

Berke meninggal pada tahun 1266 tanpa meninggalkan keturunan laki-laki. Posisinya digantikan oleh keturunan Batu yang lain. Penyebaran Islam terus berlangsung sepeninggalnya dan menjadi agama yang dominan di kerajaannya. Sejak era Berke, sekolah-sekolah Al-Quran telah didirikan untuk mendidik generasi muda. Di samping khan sendiri, setiap istri khan dan para emirnya didampingi oleh para imam dan muazzin.10

Naiknya Berke sebagai khan di Golden Horde pada tahun 1257 merupakan ‘the first official establishment of Islam in a Mongol state.’ Berke dan pasukan Mongolnya tentu saja bukan yang pertama kali menyebarkan Islam di wilayah Golden Horde, sebelumnya sudah ada bangsa Bulghars di wilayah Volga yang telah memeluk Islam sejak abad kesepuluh. Semua ini tentu ikut mempengaruhi pengokohan Islam di wilayah Golden Horde, walaupun rupanya tidak berlaku untuk bangsa Rusia dan bangsa-bangsa Eropa Timur lainnya yang tetap diperlakukan secara toleran dan memilih untuk bertahan pada keyakinan lamanya, yaitu Kristen Ortodoks. Kerajaan Golden Horde bertahan setidaknya hingga abad kelima belas ketika kerajaan itu mulai melemah dan wilayah-wilayah yang dikuasainya satu demi satu memisahkan diri. Walahu a’lam. 

***

Ramadhan di Ayn Jalut

Oleh: Alwi Alatas

Hidayatullah.com–Ada banyak perang besar di sepanjang sejarah umat manusia, tapi tidak semuanya dianggap sebagai perang yang menentukan (decisive battles). Hanya sebagian dari peperangan penting yang dianggap sangat menentukan dalam perjalanan sejarah. Sebuah perang dianggap sangat menentukan biasanya disebabkan perannya sebagai sebuah titik balik (turning point) yang penting bagi sejarah dan peradaban. Tentu saja hal ini berdasarkan asumsi dan analisa para ahli, karena kita tidak pernah bisa benar-benar mengetahui, apakah jika peperangan-peperangan itu memberikan hasil yang berbeda, maka suatu titik balik atau sebuah perubahan yang besar dalam sejarah tidak mungkin terjadi segera setelah itu.

Dalam sejarah Islam, ada beberapa perang yang dianggap sangat menentukan, dan beberapa di antaranya terjadi pada bulan Ramadhan. Perang Badar, sebagaimana kita tahu, merupakan salah satu perang yang sangat menentukan dan ia terjadi pada bulan Ramadhan. Pentingnya peperangan ini serta posisinya yang sangat menentukan, terabadikan di dalam doa Nabi shallallahu a’alihi wasallam di tengah berkecamuknya perang, ”Ya Allah, sekiranya kaum Muslimin dikalahkan, maka tidak ada lagi yang akan menyembah-Mu setelah hari ini.”

Ada beberapa perang menentukan lainnya yang terjadi pada bulan Ramadhan, di antaranya adalah perang yang terjadi di Ayn Jalut, Palestina, pada tahun 658H/1260M. Perang ini terjadi antara pasukan Mamluk dari Mesir dengan pasukan Mongol yang datang menyerang dari arah Suriah.

Perang Ayn Jalut sangat menentukan karena ia merupakan perang pertama, di mana pihak Mongol berhasil dikalahkan dan dihentikan laju penaklukkannya (sejak kemunculan Jenghis Khan).

Pada tahun-tahun itu, anak cucu Jenghis Khan telah memimpin proses penaklukkan besar-besaran yang telah meluluhlantakkan negeri-negeri yang ada di Asia. Satu demi satu kerajaan yang ada di Cina, Persia, Asia Tengah, dan yang lainnya, jatuh ke tangan bangsa Mongol dengan relatif mudah. Mereka yang berani melawan, dihancurkan dan dihabisi secara kejam. Di antara korban terbesar dari penaklukkan Mongol adalah negeri-negeri Muslim berikut penduduknya.

Pada tahun 1258M, Hulagu Khan memimpin pasukannya, menaklukkan Baghdad, ibukota kekhalifahan Abbasiyah, dan membunuh Khalifahnya. Dengan begitu jatuhlah pusat pemerintahan Islam serta simbol utamanya. Tidak merasa cukup dengan ini, Hulagu meneruskan invasinya ke wilayah Suriah. Satu per satu kota yang ada di wilayah ini, seperti Harran, Nisbis, dan Edessa, jatuh dan dihancurkan oleh Mongol. Dinasti Ayyubiyah yang pada masa itu mengendalikan wilayah Suriah, tidak mampu menahan laju serangan Mongol. Sisa-sisa pasukan Salib yang masih bercokol di beberapa tempat di Suriah, juga merasa ketar-ketir dengan adanya ancaman dari Timur ini.

Pada bulan Muharram 658H/1260M, pasukan Tartar Mongol mencapai kota Aleppo. Setelah mengepungnya selama beberapa hari, mereka berhasil merebutnya dan membunuh ribuan penduduk. Penguasa Bani Ayyub di Damaskus yang merasa tak mampu menghadapi kekuatan Mongol, akhirnya memilih meninggalkan Damaskus dan menyerahkan kota tersebut kepada musuh.

Setelah meraih keberhasilan ini, maka sasaran Mongol berikutnya adalah Mesir yang dipimpin oleh Sultan Qutuz dari dinasti Mamluk. Mesir, dan peradaban Islam secara umum, menghadapi situasi yang sangat genting. Musuh yang mereka hadapi sangat kuat, kejam, dan belum terkalahkan. Mesir sendiri sedang menghadapi persoalan internal yang cukup serius; pembunuhan elit dan pergantian kekuasaan, serta konflik internal yang cukup serius. Mesir juga memiliki ketegangan dengan penguasa Damaskus dan sisa-sisa pasukan Salib di Suriah, yang mereka itu bisa saja memutuskan untuk bergabung dengan tentara Mongol dan menghadapi mereka.

Di tengah suasana genting itu, Qutuz yang baru saja diangkat sebagai raja muda (viceroy) mengambil tindakan-tindakan tegas untuk menghadapi kemungkinan serangan dari Mongol. Ia menganggap Mesir hanya bisa menghadapi ancaman Mongol melalui kepemimpinan yang kuat. Maka ia menurunkan Sultan Mesir yang ketika itu masih berada di bawah umur dan mengangkat dirinya sendiri sebagai Sultan yang baru. Ia menyatakan bahwa kesultanannya hanya bersifat sementara, hingga Mongol berhasil dikalahkan. Sementara pasukan Mongol menaklukkan wilayah Suriah, Sultan Qutuz melakukan konsolidasi di Mesir dan membangun hubungan dengan penguasa Suriah.

Mongol memang menjadikan Mesir sebagai sasaran berikutnya, setelah Suriah. Mesir merupakan wilayah yang sangat strategis dan pintu menuju benua Afrika dan juga Eropa. Hulagu mengirim beberapa orang utusan kepada Mesir dengan membawa sebuah surat berisi ancaman agar Mesir menyerah. “… Kami tidak mengenal kasih sayang terhadap mereka yang menangis, tidak juga rasa simpati pada mereka yang mengeluh. Kamu mendengar bahwa kami telah menaklukkan negeri-negeri, membersihkan bumi dari kejahatan, dan membunuh kebanyakan manusia,” demikian antara lain bunyi surat yang dikirim oleh Hulagu. “Berhati-hatilah karenanya, dan jawablah dengan segera, sebelum perang berkecamuk dan sebelum ia menghanguskanmu … kami tidak mencari-cari orang (sasaran) lain selain kamu ….”

Qutuz merespons surat itu dengan menangkap para utusan Mongol, menghukum mati mereka, dan menggantung kepala-kepala mereka di Gerbang Zawila. Dengan demikian genderang perang sudah ditabuhkan dan kedua belah pihak bersiap-siap untuk saling berhadapan. Sultan Qutuz tidak ingin menunggu Mongol di negerinya. Ia menyerukan jihad dan menghimpun kepala-kepala tentara untuk bergabung dengannya dalam menghadapi Mongol. Ia dan pasukannya kemudian berangkat keluar dari Kairo menuju Salihiyya pada tanggal 5 Sha’ban 658 H (Agustus 1260M). Ia memimpin sendiri pasukannya dan mengirimkan pasukan pendahulu yang dipimpin Rukn al-Din Baybars untuk mengamat-amati pergerakan musuh.

Sementara itu, Hulagu bersama sebagian pasukannya memutuskan untuk kembali ke pusat kerajaan Mongol, setelah mendengar Great Khan baru saja meninggal dunia. Ia menyerahkan proses penaklukkan Mesir pada orang kepercayaannya, Kitbuqa, yang menganut Kristen Nestorian. Perginya Hulagu dan berkurangnya jumlah tentara Mongol menjadi keuntungan tersendiri bagi pasukan Mesir. Namun ancaman dari pasukan Mongol di bawah kepemimpinan Kitbuqa tetap tidak bisa dipandang remeh.

Pasukan Mongol berhasil mencapai Gaza yang berbatasan dengan  Mesir. Tapi saat mereka melihat pasukan yang dipimpin Baybars tiba di Gaza, mereka memilih untuk meninggalkannya tanpa konfrontasi. Tak lama kemudian Pasukan Utama yang dipimpin Sultan Qutuz bergabung dengan pasukan Baybars. Mereka bergerak menyusuri wilayah pantai hingga tiba di dekat Acre yang ketika itu dikuasai oleh pasukan Salib. Sultan berhasil menjalin persekutuan dengan pasukan Salib di Acre agar yang terakhir ini tidak bergabung dengan Mongol. Lalu mereka mendapat kabar kalau Kitbuqa dan pasukannya menuju Mesir dari arah Tenggara. Maka Pasukan Mesir pun berbalik arah untuk menghadang pasukan Mongol.

Kedua pasukan kemudian berjumpa di lembah yang dikenal sebagai Ayn Jalut, tak jauh dari Nablus. Baybars dan pasukannya bergerak lebih dulu menghadapi musuh, sementara Qutuz dan pasukan lainnya menunggu di tempat tersembunyi. Baybars berhasil memancing pasukan Mongol untuk mengejar mereka sampai kemudian Qutuz dan pasukan Mesir muncul dan menyergap secara tiba-tiba. Pasukan Tartar sempat terdesak oleh serangan pasukan Mesir, tetapi mampu menghimpun kekuatan mereka kembali dan mengimbangi pasukan Islam. Pada pertempuran ini, pasukan Mamluk Mesir disebut-sebut sudah mulai menggunakan meriam tangan (midfa) untuk mengejutkan kuda-kuda lawan dan menimbulkan kekacauan dalam shaf pasukan musuh.

Puncak pertempuran terjadi pada tanggal 25 Ramadhan 658H (6 September 1260M). Sejak pagi, pasukan Mongol menyerang dengan ganas dan membuat pasukan Mesir mengalami kekacauan dan tekanan. Namun, Sultan Qutuz kemudian menyerang dengan kekuatan penuh dari arah tengah sambil memberikan semangat pada pasukannya. Pertempuran berkecamuk, dan pada satu waktu Sultan Qutuz sendiri sempat terjatuh dan hampir terbunuh. Namun ia berhasil mendapatkan kudanya kembali dan terus memimpin peperangan. Ia berseru dan berdoa di tengah berkecamuknya perang, ”O Islam! Ya Allah, berikan hamba-Mu Qutuz kemenangan terhadap Tartar!

Pasukan Mesir akhirnya berhasil memukul mundur pasukan Mongol dan menangkap pemimpinnya, Kitbuqa, yang kemudian dihukum mati. Sisa-sisa pasukan Tartar melarikan diri dari medan perang. Pasukan Muslim meraih kemenangan yang gemilang. Sultan Qutuz turun dari kudanya, bersujud di atas tanah, dan memuji Allah atas kemenangan itu. Pasukan Mesir di bawah pimpinan Baybars mengejar dan membunuh sisa-sisa pasukan Tartar. Sultan memasuki Damaskus pada akhir Ramadhan setelah kota itu ditinggal lari oleh tentara Tartar. Wilayah Suriah kemudian dibersihkan dari kekuatan Mongol dan kedaulatan Islam kembali ditegakkan di sana.

Hulagu dan tentaranya tak pernah berhasil membalas kekalahan pasukannya di Ayn Jalut. Dengan begitu, laju pasukan Mongol telah berhasil dihentikan untuk pertama kalinya di Ayn Jalut oleh pasukan Islam dari Mesir. Sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad Abdullah Enan, “(Perang) Ayn Jalut adalah sebuah hari yang penting, tidak hanya dalam Sejarah Mesir dan Islam, tetapi juga dalam seluruh sejarah peradaban.” Karena kalau saja Mesir jatuh ke tangan Mongol, maka besar kemungkinan Afrika Utara dan setelah itu Eropa akan mengalami nasib yang sama. Wallahu a’lam.

Penulis sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia


Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>